“Elegi Amplop Terakhir” Eps.6 ( Last Episode )

“Sudah jatuh, tertimpa tangga”

Barangkali peribahasa itu yang menggambarkan keadaan nasib percintaanku. Bayangkan, ditinggalkan tanpa sebuah kejelasan, bukankah itu menyakitkan? Lalu tiba-tiba datang sebuah kabar bahwa ia yang meninggalkanmu ternyata menikah, bagaimana? Yang terakhir, kabar kematian ia yang meninggalkanmu datang, lengkap sudah beban perasaan yang harus ku tanggung. Aku terlalu tenggelam dalam perasaanku.

Selanjutnya apa? aku harus mencari cara untuk membebaskan diriku dari belenggu tak kasat mata yang orang-orang sebut dengan kesedihan. Aku memutuskan untuk menuliskan sebuah surat balasan, bukan ditujukan kepada Nauval tentu saja untuk Laras.

 

 

Yogyakarta, 15 Mei 2015

 

Assalamu’malaikum Wr. Wb.

Bagaimana keadaanmu, Laras? Dan bagaimana keadaan si baby? Apakah dia tumbuh dengan baik? Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah. Aku sudah membaca semua isi amplop yang kau kirimkan, dengan urut tentu saja. Aku perlu banyak berterimakasih kepadamau. Mungkin jika kau tidak mengirimkan surat-surat itu, entah sampai kapan aku akan hidup dihantui oleh rasa penasaran. Ya walaupun sebenarnya berat juga menerimanya, tentu kau bisa bayangkan bagaimana perasaanku setelah membaca surat-surat Nauval dan terakhir surat darimu.

Tetapi aku tidak ingin larut dalam kesedihan. Aku sadar, hidup harus tetap berjalan sekalipun kita berada dalam posisi yang paling menyedihkan. Apalagi karena masalah cinta, karena itu hanya sebagian saja dari lingkaran kehidupan kita. Aku menjadikan kisahku dengan Nauval dan denganmu sebagai pelengkap dalam rangkaian kehidupanku. Bukankah akan menjadi membosankan hidup yang begitu-begitu saja tanpa ada permasalahan yang mendewasakan kita.

Laras, boleh aku bercerita sedikit tentang Nauval? Saat itu aku masih begitu bocah ketika Ayahku meninggal karena penyakita yang dideritanya, Nauval datang sebagai sosok seorang kakak yang membuatku bisa bangkit dari keterpurukan karena kepergian Ayah. Semakin lama aku tumbuh dewasa dan lambat laun perasaan yang tadinya sebatas kakak adik mulai menjadi sebuah perasaan yang berbeda. Begitupun dengannya, ternyata ia juga sama merasakannya. Kita semakin dekat, dengan ibu ku pun ia sangat akrab. Tetapi aku tidak pernah tau tentang keluarganya. Dia selalu menghindar jika aku bertanya tentang hal itu.

Semakin hari aku semakin ketergantungan dengan kehadirannya. Hingga suatu hari di hari ulang tahunku yang ke-18, ternyata itu hari terakhirku bertemu dengannya. Aku tidak pernah menduganya sama sekali. Hari berganti hari, aku terus menunggu sosok Nauval, mengharapkan kedatangannya. Tetapi dia tidak juga datang, hingga bertahun-tahun, hingga amplop amplop yang kau kirimkan itu datang.

Tidak mudah begitu saja menerimanya, aku bahkan mencemburuimu Laras, jujur saja. Tapi aku bisa apa dengan sesuatu yang sudah berlalu? Menyesalinya terus menerus rasanya tidak mungkin. Bukankah begitu? Oh iya, beberapa waktu yang lalu aku naik ke merbabu. Konyol sekali aku mencoba mencari tulisan yang ada seperti didalam fot yang kau kirimkan. Ah, aku tidak bisa menemukannya. Banyak sekali pohon yang aku temui, pada awalnya aku memeriksa satu persatu, tetapi lama-lama aku lelah juga. Lagi pula itu bukan tujuan utamaku.

Akhir-akhir ini aku suka naik ke gunug-gunung di sekitar sini. Padahal dulu aku paling tidak suka dengan hal-hal semacam itu. Tetapi ternyata sekali mencoba sangat menyenangkan dan membuat ketagihan. Kau mau mencobanya? Ah tidak, sekarang kau sudah menjadi ibu. Tidak mungkin meninggalkan anakmu, untuk bersenang2 sendiri kan? Tentu saja.

Laras, semoga kita bisa menjadi teman baik. Suatu saat bisa bertemu untuk saling berbagi cerita.  Sementara ini aku hanya mengirimkan surat singkat ini. Lain waktu aku akan mengunjungimu ke solo jika kamu tidak keberatan. Aku juga ingin berziarah ke makam Nauval. Sekedar melepas rindu dan brdo’a didepan pusaranya, bukan untuk  berlarut dalam duka.

Mungkin selanjutnya jika kau ingin melanjutkan komunikasi lebih baik kau hubungi saja no ini 085640667299. Itu saja, salam untuk baby kecil juga.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

 

Begitulah caraku melawan keterpurukan, aku bahkan menuis surat untuk wanita yang menikah dengan orang yang aku cintai. Kematian Nauval bukan akhir segalanya, lagipula apa bedanya jika dia masih hidup? Aku tetap tidak bisa memilikinya lagi.

Bukan perkara apakah aku akan melupakan Nauval begitu saja, bukan. Tetapi aku akan terus melanjutkan hidupku dengan penuh percaya diri, pasti akan tiba masanya aku bertemu dengan cinta sejatiku.

 

===== END =====

Categories: story