“Elegi Amplop Terakhir” Eps.4

Nyaris aku tidak bisa mengetahui kelanjutan isi amplop dari Nauval. kembali.

“Bunga, stop! Aku belum selesai membaca isi amplop-amplop itu.”

Bunga Rupanya keputusanku untuk membuangnya bukan membuatku semakin tenang tetapi membuatku lebih penasaran. Dhania hampir saja membakar isi tempat sampah itu di belakang rumah. Beruntung lah saat itu aku melihatnya sedang menyalakan korek api dan aku berhasil mencegahnya. Lalu ku pilah-pilah amplop-amplop Nauval yang sudah tercampur dengan sampah lain, beruntunglah sampah dari kamarku hanya berupa kertas-kertas dan plastik kering. Bunga hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihatku bertingkah seperti itu.

“Kamu itu Dhan, baca isi amplop sedikit begitu tidak selesai juga, malah di buang. Sudah begitu masih diambil lagi.”

“Kan supaya lebih menghayati, Bunga cantik. Jadi satu-persatu sesuai urutan.” Jawabku sambil tertawa dan setelah mengumpulkan semua amplop aku pergi ke kamar. Bunga melanjutkan aktivitasnya membakar sampah-sampah tadi.

Aku melannjutkan ‘pencarianku’ untuk memecahkan tanda tanya besar yang selama ini terus membayangiku, dengan sabar tentunya. Baiklah sekarang saatnya amplop ke-3 untuk ku baca.

 

Solo, 11 Desember 2010

 

Assalamu’malaikum Wr. Wb.

Salam manis selalu untuk Dhaniaku. Semoga dalam keadaan sehat selalu dan dalam lindungan-Nya. Apakah kau pernah mendengar ada seorang sufi yang mengatakan bahwa tidak ada masa lalu, tidak hanya masa depan, yang ada hanya masa sekarang atau kekinian, apakah kau sepakat?  Jika kau sepakat makan akan lebih mudah kau menerima kenyataan bahwa aku ingin kau melupakan masa lalu, bukan melupakan, tetapi memnbiarkannya. Toh masa lalu itu tidak ada. Tetapi jika kau tidak sepakat, maaf Dhania, jika aku sepihak memintamu melupakan apa yang pernah kita lalui, harapan-harapan yang pernah aku berikan. Bukan tanpa alasan aku begini, Dhania. Banyak hal yang aku pertimbangkan sebelumnya dan aku harus tegas sebagai seorang lelaki. Bukankah akan lebih menyakitkan jika aku sama sekali tidak memberitahumu dan menghilang tanpa jejak. Aku tidak ingin seperti, menjadi kenangan buruk sepanjang ingatanmu.

Kabar ini mungkin akan sama menyakitkanyya dengan aku menghilang tanpa jejak. Dan ini semua bukan sengaja ku rencanakan. Hanya mengalir sesuai dengan kehendak Tuhan. Maaf jika aku terlalu berbelit-belit, Dhania, aku dijodohkan.

 

Sampai disitu aku berhenti dan  menghela nafas dalam-dalam. Jadi pertanyaanku selama ini sudah terjawab, dengan sabar aku membaca isi amplop satu persatu dan ternyata ini yang enjadi jawabannya? Aku bertanya pada diriku sendiri. Wanita mana yang tidak kesal dan marah jika kekasihnya pergi tanpa alasan begitu saja dalam waktu yang begitu lama tidak memberi kabar sedikitpun, dan begitu memberi kabar ternyata itu tidak kita inginkan sama sekali. Kali ini aku menangis dan merasa benar-benar telah di tinggalkan dengan cara yang kejam. Jika perjodohan ini sudah 5 tahun yang lalu, bukankah mungkin saat ini mereka sudah menikah dan bahkan memiliki anak? Aku fikir mati rasaku selama ini sia-sia, aku tidak membuka hatiku kepada siapapun karena ku kira Nauval akan kembali walaupun aku tahun harapan itu semu, dan ternyata bukan hanya semu, tetapi sudah benar-benar tidak ada.

Beberapa waktu yang lalu aku diperkenalkan dengan seorang gadis, dia anak teman ayahku. Aku tidak bisa menolak perjodohan ini, aku minta maaf Dhania, karena aku tidak ingin mengecewakan kedua orang tuaku.

Aku begitu tidak tertarik untuk membaca kelanjutan surat itu karena pasti hanya berisi pembelaan Nauval. Ku remas kertas yang ada di tanganku dan ku lemparkan ke sudut ruangan. Lalu ku ambil amplop nomor 5, dengan kasar ku keluarkan kertas yang ada didalamnya. Aku penasara apakah dugaanku benar bahwa Nauval menikah dengan gadis yang dijodohkan dengannya.

 

Solo, 11 Januari 2012

 

Assalamu’malaikum Wr. Wb.

Salam untuk Dhaniaku disana. Bagaimana kabarmu? Semoga selalu dalam lindunganNya. Sebenarnya aku hanya ingin berbagi sedikit kebahaginku denganmu. Entah kau akan menangkapnya seperti apa. Akhir bulan Juli lau aku telah melangsungkan pernikahan dengan Laras, perempuan yang dijodohkan denganku. Maaf aku tidak mengundangmu, karena pesta pernikahan kami hanya tertutup untuk keluarga saja, bahkan banyak teman-teman yang jauh tinggalnya tidak mengetahui pernikahanku. Aku ingin membuat kejutan saja untuk merka, jika bertemu nanti aku telah menggandeng istriku dan anak-ku.

Bulan ini Laras hamil 4 bulaln, sebentar lagi genap sudah keluargaku. Aku akan menjadi ayah. Pasti akan sngat menyenangkan  memiliki …………………………………………..

 

 

Aku semakin tidak kuat membaca kelanjutan cerita indah Nauval, teganya ia berbagi cerita yang begitu indah tentang pernikahanannya kepada wanita yang ia tinggalkan. Bukankah seharusnya ia tau jika surat ini hanya akan membuatnya semakin menjadi kenangan buruk. Ku buang pula kertas ini menyusul surat sebelumnya yang sudah terlempar di sudut ruangan. Tepat setelah itu, Bunga masuk ke kamar dan memandangku dengan penuh rasa penasaran. Meskipun ia tau pasti aku menangis disebakan surat dari Nauval.

“Apa lagi isinya? Sampai kau lempar-lembar bgini?” Bunga mengambil kertas yang sudah lusuh karena ku remas-remas tadi.

“Kau baca saja sendiri, nanti kau akan tau bagaimana sakit hatinya aku.”

Bunga duduk di sampingku dan membaca surat-surat tadi dengan cepat. Di tanganku masih ada stu amplop lagi. Disana tertulis nama pengirimnya atas nama Nauval tetapi dari tulisan tangannya terlihat sangat berbeda, tidak seperti surat-surat sebelumnya. Aku akan membukanya setelah Bunga selesai membaca dan berkomentar. Dia pasti akan sepakat dengan sakit hati yang kurasakan……….

Bersambung……..

Categories: story