“Elegi Amplop Terakhir” Eps.3

Lombok, 2 Mei 2010

 

Assalamu’malaikum Wr. Wb.

Salam manis selalu untuk Dhaniaku. Aku kembali datang ke Lombok, Januari yang lalu ada satu yang terlewatkan. Kau tau apa itu? Rinjani. Ijinkan aku menceritakan keindahannya. Ya walaupun aku tau kamu tidak begitu menyukai hobiku yang satu ini. Kamu selalu saja ribut dancerewet kalau tau aku mendaki gunung. Selalu ada saja alasanmu melarangku, tapi kamu tidak pernah berhasil mecegahku. Dan hasilnya apa?  Dasar Dhaniaku, ya aku faham kamu khawatir denganku. Tapi nyatanya aku baik-baik saja, selalu baik-baik saja. Dan kali ini, lagi-lagi aku mendaki tanpamu, kapan kamu mau ku ajak menaklukkan puncak-puncak tinggi, Dhania? Ini indah. Apa kau menunggu setelah aku melamarmu? Baiklah, tunggu saja sampai saat itu kalau kau masih juga tidak mau, lihat saja apa akibatnya. Haha

Aku tersenyum membaca bagian akhirnya, mengingat kembali banyak hal yang lalu dan sebenarnya hampir aku tidak ingin mengingatnya lagi sampai aku membaca surat ini.

“Dhania, kamu benar-benar tidak ingin ikut aku ke merbabu? Cuacanya mendukung, apa yang kamu khawatirkan?”

“Tidak, nanti kalau aku tidak kuat bagaimana? Kamu kan tau aku tidak bisa berjalan jauh seperti itu, apa lagi medannya pasti berat. Sebenarnya apa enaknya naik gunung si? Buang-buang waktu dan tenaga saja.”

Aku selalu saja tidak sependapat dengan Nauval tentang mendaki gunung, aku kira menikmati alam tidak harus dengan cara itu. Banyak cara lain yang lebih efektif dan lebih menyenangkan. Tapi itu perdebatan masa lalu, akhir-akhir ini aku mulai menyukai hobi Nauval itu, mencoba mendaki beberapa gunung yang sekiranya mudah ku jangkau. Dan amazing! Ada perasaan yang tida bisa dijelaskan ketika aku berada di puncak, menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan yang Maha Indah.

Aku tidak akan banyak bercerita, Dhania. Hanya sedikit tentang perjalananku menuju puncak rinjani. Perjalanannya cukup melelahkan, sekitar 4 hari untuk naik turun. Perjalanan dimulai dari Sembalun lawang pukul 11.00 WITA menuju Pos 1 sekitar 2 setengah jam, tracknya masih lumayan landai,  belum terlalu terasa lelahnya, ternyata pos I hanya berupa gazebo yang atapnya seng, itu pun hanya tersisa separuhnya saja. Sesampainya disana, ternyata sudah ada pendaki lain yang sedang beristirahat pula, rupanya mereka baru selesai memasak, dan tanpa basa-basi mereka menawarkan untuk makan bersama. Tentsaja aku dan kawan-kawan menerima tawaran itu, tetapi dengan malu-malu kucing lah Dhan. Hah beruntungnya ya. Selesai makan dan beristirahat, kita melanjutkan perjalanan ke p0s II atau disebut juga pos Tengengean, tracknya hampir sama dengan yang tadi, hanya sedikit lebih curam, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pos 2 pun tidak terlalu lama, sekitar 1 jam. Disisini kita tidak berlama-lama, hanya beristirahat sejenak dan segera melanjutkan perjalanan ke pos 3. Di pos III ini aku dan kawan-kawan mendirikan tenda untuk beristirahat dan menyiapkan tenaga untuk esok hari. Aku tertidur sangat pulas dan terbangun oleh alarm pukul setengah 5 pagi, udara sangat dingin apalagi ketika menyentuh air untuk berwudhu, rasanya seluruh badan ini membeku. Dan setelah sholat aku melanjutkan tidur hingga jm 8 pagi dibangunkan oleh kawan-kawanku untuk mempersiapkan sarapan pagi dan melanjutkan perjalanan

Kau tau? Yang paling melelahkan dimulai dari sini, perjalana dari pos III ke plawangan sembalun, disana medannya berat, ada tanjakan, namanya tanjakan Penyesalan, haha aneh ya namanya? Jadi begini, di track ini perjalanan yang dilalui menanjaki bukit, ketika aku dan kawan-kawan kira sudah sampai puncak bukit ternyata masih ada bukit-bukit selanjutnya, dan semuanya berjumlah 9 bukit, tetapi ada pula yang mengatakan 7 bukit, ntahlah sebenarnya aku pun bingung bagaimana menghitungnya, itu hanya pendapat kawan-kawanku saja, banyak bukan? seakan-akan tidak ada habisnya, Ya Tuhan, sungguh melelahkan! Dan di tanjakan terakhir sebelum sampai di Plawangan Sembalun ada tanjakan final yang aku perkirakan kemiringannya sekitar 60 derajat, jalannya terjal dan licin, apalagi pada sasat itu gerimis menyertai, rasanya oksigen semakin menipis Dhania, dadaku sesak, badan menggigil, kakiku terasa lelah dan mati rasa. Luar biasa! Rasanya seperti ingin kembali ke pos 3, tetapi mengingat energi yang sudah ku habiskan rasanya sia-sia jika akhirnya hanya kembali tanpa menjamah puncak. Aku masih tetap berjuang melanjutkan perjalanan. Akhirnya setelah berjalan sekitar 5 jam sampailah di punggung bukit, ada kepuasan tersendiri saat sampai disana. Kalimat syukur dan tasbih tak berulang kali ku teriakkan karena pemandangan yang luar biasa terhampar di hadapanku, Danau Segara Anak. Euforia! Tentu saja aku dan kawan-kawan langsung merayakan kemenangan karena berhasil melewati Bukit Penyesalan dengan berfoto-foto disana. Dan setelah puas berfoto-foto kita melanjutkan perjalanan lagi menuju plawangan tembalun, hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk sampai disana. Sesampainya kita langsung mendirikan tenda untuk beristirahat hingga tengah malam nanti. Rupanya belum selesai kita menata tempat dan memask, ternyata senja sudah mulai nampak, orang-orang naik ke tempat yang lebih tinggi untuk menyaksikannya. Aku dan kawan-kawan tentu saja tidak mau ketinggalan Dhan, kita ikut naik dan meninggalkan barang-barang yang masih berantakan itu karena tidak mau ketinggalan momen senja di rinjani. Amazing! Sunset yang menakjubkan Dhania, bahkan puncak Gunujng Agung Bali pun terlihat dari sini. Sungguh indah, seandainya saja momen ini bisa kita nikmati bersama. Seandainya. Tenang saja, meskipun kita tidak bisa merasakan bersama, tetapi aku sudah mengabadikan momen-momen itu dalam MicroSD yang aku selipkan di amplop.

MicroSD? Dimana ada microSD?

“Bunga, amplopnya mana ya?” Bunga yang ternyata sudah tertidur terbangun kembali, kaget dengan teriakanku yang tiba-tiba.

“Eh? Amplop? Amplop apa ya?” jawabnya dengan sedikit linglung.

“Amplop surat ini lah sayang.”

Seketika itu aku gelagapan mencari amplop dari surat yang sedang ku baca

“Lha ini Dhan, jatuh di kolong tempat tidur.”

Meskipun bunga bangun tidur tetapi dia malah yang lebih dahulu menemukan amplop itu. Setelah di cek kembali ternyata benar didalam ada sebuah microSD kapasitas 8GB. Aku yakin pasti isinya foto-foto Nauval.

“Kok ada microSD, Dhan?”

“Sudah sudah lebih baik kamu tidur lagi, besok saja lihat isi microSD nya.”

“Baiklah.”

Dengan malas Bunga kembali ke tempat tidur dan merik selimutnya yang hangat. Sedangkan aku masih tertarik untuk membaca kelanjutan surat dari Nauval.

Setelah pertunujkan senja berakhir, aku dan kawan-kawan kembali ke tenda, berbenah, shloat lalu menyiapkan makan malam. Wah indah sekali malam itu Dhan, langit cerah, bintang-bintang terlihat lebih banyak dari biasanya. Subhanallah, lagi-lagi aku hanya bisa menggumamkan tasbih untuk memuji betapa luar bias ciptaan-Nya. Makan malam yang sederhana pun jadi terasa luar biasa. Udara semakin dingin , pukul 9 aku dan kawan-kawan sudah masuk kedalam tenda, kita harus istirahat karena tengah malam nanti akan melanjutkan perjalanan ke puncak. Ini yang paling aku nantikan.

Aku orang pertama yang bangun di antara kawan-kawanku, alarm sudah ku set pada jam 00.01, lalu ku bangunkan mereka. Setelah semua bersiap, kita memulai perjalanan ke puncak. Di depan sudah terlihat tim lain memulai perjalanan juga. Udaranya sangat dingin, Dhania. Jarak yag harus kita tempuh sekitar 2,5 km, dekat bukan? Tetapi pada nyatanya untuk mencapai puncak membutuhkan waktu kurang lebih 5 jam. Tentu saja karena track yang tidak mudah, trek pertama yang harus ditaklukkan adalah bebatuan besar yang hampir vertikal, cukup menyiksa. Dan tahap ke dua itu jalan berpasir yang tidak terlalu vertikal, tetapi sama menyiksanya. Dari situ mulai terlihat siluet puncak rinjani, semakin ke atas, jalannya pun semakin menyempit. Di sebelah kiri ada jurang yang cukup landai, sedangkan sebelah kanan langsung menuju ke gunung Barujari di tengah Danau Segara Anak. Kalau hilang konsentrasi ya mungkin saja good bye, hahaha. Nha jam 5 tepat kita sampai di jalur terakhir menuju puncak, tetapi sebelumnya kita beristirahat sebentar dan sholat suduh di sebuah batu besar. Setelah itu barulah kita melanjutkan perjalanan. Berkas-berkas cahaaya di timur sudah mulai terlihat. Tracknya berpasir, jadi ketika maju tiga langkah, nati mundur lagi dua langkah, melelahkan Dhania, beradu cepat dengan waktu. Jalur terakhir diakhiri dengan batu-batu yang lumayan beasar, dari situ tinggal naik sedikit lagi dan Summit! Alhamdulillah, sampailah aku di puncak Rinjani Dhania! Tepat ketika sampai di puncak, sunruise mulai terlihat dengan indahnya. Pendar cahaya berwarna orange ke emasan terlihat anggun dan menakjubkan. Hamdalah dan tasbih tidak henti-hentinya ku gumamkan. Disaat-saat seperti inilah aku semakin merasa bukan apa-apa di antara padang jagat ini Dhania. Setelah itu aku dan kawan-kawanku tentu saja eksis dengan kamera. Tapi kita tidak berlama-lama di atas, setelah puas berfoto ria kita kembali turun karena meskipun matahari sudah semakin naik tetapi udara disanan tetap terasa begitu dingin. Perjalanan turun ke plawangan sembalun hanya membutuhkan waktu 2 setengah jam, tidak seperti naik yang memakan waktu dua kali lipat.

Yah seperti itu lah sedikit cerita perjalananku. Bagaimana Dhan? Kamu masih tidak tertarik dengan pendakian? Kamu harus mencobanya. Aku tidak memaksa, hanya menyarankan saja, bagaimana menikmati alam ini dengan cara yang berbeda, itu saja. Tunggu aku Dhania, tanggal 7 nanti aku kembali ke Solo. Kalau sudah disana aku akanmenghubungimu.

 

Salam Rindu,

Nauval Sabiq

 

Selesai membaca surat itu, ku lirik jam dinding di pojok ruangan. Sudah jam setengah 12 malam. Membaca surat itu rasanya aku berada pada dimensi waktu yang berbeda, seperti benar-benar kembali ke tahun 2010, seperti membacanya benar-benar tepat setelah Naval menuliskan surat itu. Lagi-lagi yang muncul hanya tanda tanya dan tanda tanya. Terbesit kembali memikirkan kabar Nauval yang entah bagaimana, bukankah pada surat itu dia bilang akan menghubungiku setelah kembali ke Solo? Sudahlah, ku coba untuk mengabaikan setiap pertanyaan yang muncul di benakku. Ku nyalakan laptop untuk melihat isi microSD.

Ada dua folder disana, foto dan video. Aku tertarik untuk membuka folder video terlebih dahlu. Hanya berisi dua vidoe, video pertama berisi potongan-potongan beberapa video perjalanan menuju puncak rinjani yang di gabung menjadi satu, sepertinya di setiap pos Nauval mengambil video, tapi kenapa tidak di jelaskan di surat? Dasar, ada-ada saja orang ini. Video ke deua, peetama aku membukanya muncul tulisan “Dhania, I made it for Rinjani” Tentu saja itu membuatku tersenyum. Selanjutnya terlihat Nauval sepertinya sedang bersiap-siap untuk berbicara sesuatu, wajahnya tidak terlalu terlihat, karena dibelakangnya terlihat sunrise yang begitu cantik.

“Hai Dhania!” Teriaknya histeris.

“Summit! Sekarang aku di puncak rinjani, you know? Amazing, kau bisa lihat kan sunrise di belakangku seperti apa? Luar biasa indah. Dan pastinya akan lebih indah kalau kamu disini sekarang.”

Tiba-tiba terdengar sorakan dari teman-temannya, ada yang mengatakan “Nauval gombal!” Tetapi Nauval mengabaikannya dan terus berbicara didapan kamera dengan penuh percaya diri.

“Serius Dhania, kapan kita akan menikmati suasana seperti ini bersama? Kapan? Kapan? Kapan?” Ekspresi wajahnya terlihat begitu lucu, aku hanya bisa tertawa sendiri melihatnya.

“Ehm, tapi sebelumnya aku minta maaf waktu itu aku pergi begitu saja tanpa memberikan kabar yang jelas. Tenang, tenang, keep calm Dhania, aku bisa menjelaskan semua itu setelah nanti kita bertemu. Kamu tau aku sangat menyayangimu, dan sebaliknya. Jadi jangan khawatir dan meragukanku, aku akan kembali untuk menjemputmu nanti. Kamu harus menungguku, abaikan saja jika ada yang mendekatimu,  katakan pada mereka kalau kamu sudah memilikiku. Sekali lagi aku minta maaf, membuatmu menunggu. From the bottom of my heart, I’m sorry, I love you Dhania.” Lagi-lagi terdengar sorakan dari teman-teman Nauval. Dan kelanjutan dari video itu hanya pemandangan di sekitar puncak yang begitu indah, seperti di atas awan.

Setelah menonton video itu, bukan lega dan perasaan bahagia yang ku dapatkan. Tetapi justru rasa kecewa yang menjalar, benar-benar kecewa. Hampir-hampir aku menangis, tetapi tertahan. Lalu ku buka folder foto, sama isinya perjalanan Nauval di Rinjani. Ada beberapa foto nauval yang memegang tulisan, ada yang ditujukan untuk orang tuanya, dan untuk ku tentunya. “Wait me Dhania, I love You.” Itu yang tertulis di selembar kertas yang ia pegang dengan background foto yang aku yakin itu di tempat yang bernama Danau Segara Anak. Dan sebuah foto bertuliskan “Kapan kita kesini bersama, Dahania?” Aku tersenyum tipis dengan air mata yang tertahan di pelupuk mata. Masih banyak foto-foto lain tetapi sepertinya aku sudah malas untuk melanjutkan melihatnya, ku tutup semua tab, ku keluarkan microSD lalu laptop ku shut down.

Rasanya seperti ada yang meninju dadaku, terasa begitu sakit dan sesak. Aku menyusul Bunga untuk tidur, tetapi aku tidak benar-benar tidur. Pada akhirnya aku menumpahkan air mataku yang tertahan sedari tadi. Bagaimana dengan sisa surat yang belum ku baca? Apa sebaiknya tidakusah ku baca? Entah lah. Ku coba untuk menenangkan diri dan tidur dengan tenang.

 

Bersambung….

Categories: story