“Elegi Amplop Terakhir” Eps.2

Meskipun aku begitu penasaran tetapi aku belum berniat untuk membuka mplop-amplop yang lain karena tepat setelah  selesai membaca isi amplop nomor 4, adzan isya berkumandang.

“Dhan ayo dong buka amplopnya yang lain. Aku penasaran sebenarnya ada apa dengan Nauval.”

“Sabar dong, kalau kamu penasaran apa lagi aku? Sudah lah kita sholat Maghrib dulu terus makan malam, setelah itu kita lanjutkan amplop-amplop ini. Oke?”

“Oke lah, ayo ambil air wudhu dulu.” Dengan wajah yang terlihat engan Bunga beranjak untuk mengambil air wudhu. Aku masih merapikan amplop-amplop itu dan meletakkanya ke dalam laci. Selama sholat bahkan aku benar-benar tidak khusyu’, makan malam pun hanya beberapa suap yang ku habiskan. aku terus saja terganggu surat tadi. Mengapa tanggalnya sudah begitu lama? Tetapi baru sampai sekitar 2 bulan yang lalu.

“Nambah lagi Dhan, sedikit sekali makanmu. Ah, pasti kau memikirkannya.”

Aku hanya membalas dengan senyum malas tanpa berkata apapun.

 

Ku mulai lagi dengan amplop kecil yang hanya berisi selembar kertas.

 

Solo, 7 Mei 2012

Assalamu’malaikum Wr. Wb.

Dhania, Dhania, Dhania. Aku bisa gila terus-menerus memikirkanmu. Atau mungkin aku memang sudah gila, entahlah. Maafkan aku tidak mempunyai keberanian untuk menemuimu, bahkan untuk menulis surat pun aku berfikir berkali-kali, aku pun tak yakin apakah akan benar-benar mengirimkannya.  Mungkin kau bingung mengapa ada beberapaa amplop disini, tetapi jika kau membaca sesuai urutan kau akan mengerti. Karena itu semua ku tulis di waktu dan tempat yang berbeda.

Sudah ya Dhania manis, kau tinggal membaca surat itu sesuai urutan dan kau akan mengerti mengapa sekian lama aku tidak menghubungimu. Jangan menghawatirkanku.

 

Salam Rindu

Nauval Sabiq

 

Aku agak kesal membaca surat singkat itu, dengan percaya diri dia mengatakan “Jangan mengkhawatirkanku”. Dia tidak tau bagaimana gilanya aku berusaha menenangkan diri setelah sekian lama tidak ada kabar darinya. Bunga yang juga ikut membaca surat itu seakan mengerti maksud dari raut wajahku, ia justru tertawa dengan bahagianya. Jarak waktu amplop ke 4 dengan selembar kertas ini lama sekali, 1 tahun.

“Tidak ada yang lucu, Bunga”

“Tidak lucu bagaimana?  Ekspresi wajahmu itu lho, mata terbelak, bibir ditarik keatas samping sebegitu sinisnya, jelek sekali Dhania.”

“Sudah-sudah, tidak penting seperti apa ekspresiku sekarang. Lebih baik kita lanjutkan saja ke amplop nomor 1.”

Bunga dengan segera mengambil amplop nomor 1.

“Eits, aku dong yang buka, kan ini buat aku, kamu Cuma numpang baca. Haha” Gantian aku yang menggoda Bunga sekarang, sambil merebut amplop itu dari tangannya.

“Iya iya, ambil lah itu semua amplop.”

“Eh jangan marah seperti itu, aku hanya bercanda.”

Lalu Bunga hanya membalasnya dengan senyum yang menandakan bahwa ia tidak marah kepadaku. Kami pun mulai membaca isi amplop tersebut.

 

 

Lombok, 29 Januari  2010

 

Assalamu’malaikum Wr. Wb.

Salam manis selalu untuk Dhaniaku. Bagaimana kabrmu? Baik-baki saja kah? Sehat? Aku sangat merindukanmu. Hampir dua tahun sejak terakhir kali kita bertemu, aku ingat betul hari itu. Ulang tahunmu yang ke-18 kita merayakannya di halaman belakang rumahmu, dan tiba-tiba hujan turun begitu saja, aroma tanah basah yang khas setelah hujan turun begitu terasa, sederhana tapi aku selalu mengigatnya. Tentu saja, tidak ada sedikitpun yang aku lupakan tentang dirimu, dan semua yang terjadi di antara kita.

Bagaimana dengan belajarmu? Apakah kau sudah kuliah sekarang? Kau masih berambisi dengan bahasa perancis? Dulu kau sering sekali mengatakan ingin berkunjung ke negaranya Maria Antoinette untuk melihat maha karya dunia seni disana. Dan bukankah akan lebih romantis jika kita pergi bersama? Ah, tentu saja, membayangkannya pun membuatku senyum-senyum sendiri. Terus berusaha keras Dhania, untuk membuat mimpi-mimpimu menjadi nyata. Kau tau? Aku selalu menyelipkan namamu dalam do’a-do’aku, selalu.

Pertama-tama kau pasti bertanya-tanya mengapa aku menghilang setelah hari itu tanpa memberi kabar sedikitpun, aku tau kau pasti mencoba menghubungiku berkali-kali. Maaf Dhania aku sengaja menghilang, semua akunku non-aktif, bahkan nomor handphone pun ku ganti. Jangan khawatir Dhania, aku baik-baik saja. Aku melakukan itu semua karena suatu alasan yang nantinya kau akan tau sendiri, tidak sekarang, mungkin suatu saat nanti ketika kita bertemu kembali aku akan menceritakan semuanya. Meskipun sekarang teknologi sudah canggih dan aku bisa memberi kabar melalui e-mail, friendster, facebook atauyang lain tetapi aku memilih menggunakan surat ini, tulisan tanganku sendiri yang aku pikir akan lebih romantis, benar kan? Kau suka hal-hal yang romantis. Dhania, Surat ini hanya sapaan saja, dan menandakan bahwa aku masih hidup. Kau tidak berfikiran aku sudah mati kan? Haha lucu sekali, pasti kau pernah berfikir seperti itu.

Apakah kau tau sekarang aku berada dimana? Ah konyol sekali pertanyaanku, jelas aku sudah menuliskan tempatnya, iya sekarang aku ada di lombok Dhania. Banyak tempat yang indah disini, pantai-pantai dengan pasir putihnya, Ya Tuhan, jikalau aku diberi umur panajang aku akan mengajakmu ke tempat ini, aku berjanji. Bukan hanya lombok, seluruh Indonesia, kita akan mengelilinginya bersama suatu hari nanti. Bersabarlah menunggu waktu yang tepat untuk semua itu, Dhania. Kau masih menyimpan cinta kita kan? Harus! Kau harus masih menyimpannya untuk ku.

Untuk saat ini aku hanya hanya bisa meminta maaf telah membuatmu hidup dalam kegelisahan dan penuh tanda tanya. Sedemikian rupa aku mengkamuflasekan rindu dalam raut tegar tanpa harap, saat itulah hati terbungkam dengan ketidak adilan yang kubuat sendiri. Pada saatnya aku akan membayar lunas semua hutang rinduku padamu. Tunggu aku kembali, Dhania.

 

Salam Rindu

Nauval Sabiq

 

 

“Bunga, aku bisa gila membaca surat seperti ini yang ditulis 5 tahun lalu. Aku tidak salah perhitungan kan? 5 tahun.” Aku menerawang jauh dengan surat yang masih tergantung lemas di tangan kananku.

“Iya Dha, kau benar. 5 tahun.”

 

Bersambung……..

Categories: story