“Elegi Amplop Terakhir” Eps.1

Sabtu sore tanpa aktivitas, aku duduk di balik jendela kamar sambil memandang langit senja yang semakin gelap tertutup awan hitam dan aku yakin sebentar lagi menumpahkan hujan deras. Benar saja, gerimis mulai membasahi tanah kering halaman rumah beberapa menit kemudian. Ah, seperti peramal saja aku ini. Dan ya, aroma tanah basah semerbak terhirup oleh hidungku yang membuka memori tentang sesuatu yang tak juga dapat aku lupakan beberapa tahun terkhir. Selalu saja begini, tapi setidaknya aku bisa pura-pura melupakan itu.

Di belakang ku, Bunga sedang sibuk mencari buku-buku referensi untuk tugasnya.

“Dhania, dimana kamu meletakkan buku sosiolinguistik?”

“Sepertinya masih di laci meja, belum ku kembalikan ke rak buku. Coba cari disana, aku akan membuat coklat panas sebentar di dapur.”

“Iya Dhan, sekalian buatkan aku ya.”

“Siap, kurang baik apa aku sama kamu Bunga.”

Bunga sudah ku angap sebagai saudara ku sendiri, kami tinggal bersama sejak kelas 3 SMP karena ke-2 orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan maut, hingga sekarang melanjutkan ke perguruan tinggi dan tinggal di kos yang sama pula. Kami saling berbagi cerita dan sangat terbuka satu sama lain. Aku mengetahui hampir semua tentan Bunga begitupun sebaliknya.

Saat aku kembali ke kamar bunga terlihat sedang memegang dan mengamati dengan seksama 2 buah amplop besar di tangannya dan ia seperti kaget saat melihatku memasuki kamar. Ku letakkan coklat panas dan camilan di atas meja dan tidak memperhatikan Bunga lagi.

“Dhan, tadi saat aku mencari buku di laci meja tidak sengaja menemukan 2 amplop ini. Apa kamu benar-benar belum membukanya?”

“Apa sih Bunga, sudah lah letakkan lagi saja amplop itu di laci.”

“Tapi kalau kamu tidak membukanya, kamu tidak akan pernah tau apa yang sebenarnya terjadi.”

Aku duduk sambil meminum coklat panasku dan pura-pura tidak mendengar apa yang Bunga katakan.

“Ayolah Dhania cantik, mau sampai kapan? Ini sudah hampir 2 bulan sejak kamu menerima amplop ini.”

Aku masih pura-pura tidak mendengarkan Bunga berbicara.

“Oke, kalau kamu tidak mau membukanya sendiri biarkan saja aku yang membukanya. Kamu tidak peduli kan?”

Dengan gerak refleks aku meletakkan coklat panasku dan merebut 2 amplop itu dari tangan Bunga.

“Jangan, Bunga! Biar aku yang membukanya sendiri. Iya, baiklah aku akan membukanya sekarang.”

“Memang harusnya begitu, Dhan.”

Bunga terlihat puas melihatku akhirnya mau membuka amplop itu. Tepat ketika aku akan membukanya, adzan maghrib berkumandang, hujan di luar pun belum juga reda.

“Bunga cantik, sebaiknya kita sholat maghrib dulu. Aku janji setelah sholat nanti aku akan membukanya.”

Bunga mengiyakan ajakanku dan kami mengambil air wudhu lalu sholat berjamaah seperti biasa.

 

***

 

Kami mengambil posisi yang nyaman untuk membuka amplop yang entah apa isinya, tetapi aku yakin amplop di tanganku ini berisi berlembar-lembar kertas yang penuh dengan permohonan maaf. Sepertinya aku terlalu percaya diri. Ku pandang lekat-lekat nama dan alamat pengirim,

 

Nauval Sabiq

Jln. Pabelan, Gonilan, Kartosuro

Kota Solo, 57162

 

Perlahan ku sobek ujung amplop dan membukanya. Ku keluarkan semua yang ada didalamya, bukan seperti yang ku bayangkan. Selembar kertas dan lima amplop kecil. Apa ini? Masing-masing amplop bertuliskan angka, mungkin maksudnya sebagai nomor urut dan selembar kertas itu semacam petunjuk. Tetapi aku tidak akan memulai dari selembar kertas itu, aku akan memulai dari amplop nomor 4. Mengapa nomor 4? Entahlah, alasanku hanya karena 4 adalah tanggal lahir Nauval, itu saja. Amplop nomor 4 hanya berisi selembar kertas.

“Dhan, kenapa amplop nomor 4 dulu? Bukan kertas kecil?” Protes Bunga.

“Sudah diam saja, kamu ini crewet sekali.”

 

Solo, 7 Mei 2011

Assalamu’malaikum Wr. Wb.

Dhania ku yang manis, selamat ulang tahun. Semoga selalu dalam lindungan Allah. Maaf aku tidak bisa memberikan kado yang special untuk mu, hanya do’a-do’a yang selalu ku panjatkan agar Dhaniaku selalu bahagia. Apakah kamu masih menyimpan sorban yan aku berikan ketika ulang tahunm yang ke 18? Tentu saja Dhania harus masih menyimpannya. Meskipun sudah terlihat lusuh tetapi kau tahu sendiri kan kemanapun aku selalu memakainya.

Tetapi semua itu tidak penting sekarang, yang terpenting adalah bagaimana Dhania menerima semua alsan yang aku sampaikan dalam surat sebelumnya dan tentu saja mau memaafkanku. Aku benar-benar minta maaf. Aku tau itu tidak mudah, kau pasti marah itu wajar. Tetapi aku tidak ingin pergi tanpa suatu alasan yang tidak jelas dan  penuh tada tanya apa lagi meninggalkan kesalahpahaman .  Ingat Dhania, aku tak pernah sedikitpun berniat mengabaikanmu.

Akhir-akhir ini aku sering bermimpi tentangmu Dhania, mungkin karena rindu atau entah rasa bersalah yang mengganggu fikiranku. Dan aku tak bisa begitu saja mengabaikan mimpi itu. Semakin mendekati hari itu semakin aku gelisah dan khawatir kepadamu. Lagi-lagi hanya kata maaf yang bisa aku katan, di hari ulang tahunmu aku tau surat ini justru membuatmu sedih atau bahkan semakin membenciku. Tetapi aku yakin Dhania bisa berfikir dewasa dan memahami situasiku seperti apa. Tetap semangat, Dhaniaku. Hanya ini yang bisa aku sampaikan.

 

Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.

Salam manis,

Nauval Sabiq

 

Setelah selesai membaca surat itu aku memandang wajah Bunga, dan sebaliknya. Kami bingung.

“Dhan, 7 Mei 2011? Itu artinya surat ini ditulis hampir 4 tahun yang lalu? Dan isinya, Maksudnya apa?”

Dengan mimik serius ia bertanya perihal surat itu kepadaku.

“Aku juga tidak mengerti, Bunga.”

Dengan pikiran yang masih dipenuhi kebingungan dan penasaran aku melipat kembali sura itu dan memasukkannya ke dalam amplop nomor 4 kembali. Ku pandang satu persatu amplop-amplop kecil itu. Apa maksud semua ini?

 

Bersambung……………

Categories: story